KTNA Propinsi Gorontalo Kecam Klaim Sepihak Kesuksesan PENAS XVII 2026: “Ini Hasil Perjuangan Organisasi, Bukan Syahwat Politik.

GORONTALO – RealitaNews-Suksesnya pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) XVII Tani Nelayan yang dihelat di Provinsi Gorontalo pada 20-25 Juni 2026 kini diwarnai sorotan tajam.

Ketua KTNA Provinsi Gorontalo, H. Ardjun Mogulaingo, SH, secara tegas mengecam narasi klaim sepihak yang dibangun oleh pihak pemerintah, yang seolah-olah memposisikan kesuksesan ajang nasional tersebut sebagai upaya mereka semata.

Meski mengakui secara umum bahwa pelaksanaan PENAS XVII 2026 berjalan dengan luar biasa, Ardjun menilai ada distorsi narasi yang mencederai semangat kolektif para petani dan nelayan. Ia menyoroti upaya politisasi yang mengedepankan kepentingan elektoral di balik hajatan besar tersebut.

“Sukses ini adalah kerja kolektif. Ketika pihak tertentu melakukan klaim sepihak, itu secara langsung mendelegitimasi kerja keras para LO (Liaison Officer), tim lapangan, dan elemen masyarakat yang telah berbulan-bulan terlibat langsung. Sangat disayangkan jika kerja keras yang seharusnya dirayakan bersama, justru terdistorsi oleh narasi politik sesaat,” tegas Ardjun.

Meluruskan Sejarah, Membantah Isu Sesat

Dalam pernyataannya, Ardjun meluruskan fakta historis mengenai penentuan Gorontalo sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa terpilihnya Gorontalo bukanlah hasil dari lobi pemerintah, melainkan buah dari perjuangan panjang KTNA dalam Rembuk Utama KTNA seluruh Indonesia di Padang, Sumatera Barat, pada gelaran PENAS XVI tahun 2023.

Ardjun juga menepis keras isu yang sempat beredar bahwa PENAS XVII sedianya akan dipindahkan ke Papua guna mendukung program food estate.

“Itu pernyataan sesat. Penas XVII di Gorontalo adalah hasil keputusan Paripurna di Padang. Putusan organisasi tidak bisa dianulir hanya berdasarkan syahwat politik atau keinginan sepihak untuk menaikkan popularitas,” ketus Ardjun.

Adat dan Nilai Kejujuran

Menyinggung falsafah daerah Gorontalo, Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah, Ardjun mengingatkan pentingnya nilai kejujuran dan saling menghargai. Ia memperingatkan bahwa ketika nilai-nilai ini diabaikan demi kepentingan politik, maka wajar jika muncul resistensi kuat dari elemen masyarakat, petani, dan nelayan yang merasa peran mereka diabaikan.

“Kita ini tidak butuh sanjungan. Namun, jangan sampai ada pihak yang merasa bisa memutarbalikkan fakta demi keuntungan pribadi atau kelompok. Ingat, PENAS ini adalah hajatnya KTNA, bukan hajat pemerintah semata,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Ardjun mengimbau kepada seluruh pihak untuk lebih menghargai perjuangan organisasi. Ia menegaskan kembali bahwa suksesnya PENAS XVII 2026 di Gorontalo adalah hasil kerja keras dan Doa dari Pengurus  KTNA Propinsi , Kab / Kota , Kecamatan dan Desa/ Kelurahan khusunya dan Masyarakat Umumnya sehingga Pengurus  KTNA Provinsi Gorontalo menang voting secara sah di forum nasional.

PENAS XVII ini adalah hasil rembuk utama KTNA, bukan hasil rembuk pemerintah,” pungkasnya.**(rn/at)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *