GORONTALO — SMA Negeri 3 Gorontalo (Smantig) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah bola basket pelajar regional. Dalam laga final PERBASI CUP II 2026 yang penuh gengsi, tim basket Smantig tampil perkasa dan sukses membungkam SMAN 1 Gorontalo dengan skor telak 86 – 41, Minggu (21/9).
Kemenangan gemilang ini sekaligus menegaskan dominasi Smantig yang berhasil mempertahankan gelar juara bertahan sekaligus mengamankan kembali Piala Bergilir dari edisi sebelumnya untuk tetap tinggal di rumah.
Namun, di balik skor akhir yang mencolok di papan pertandingan, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik perhatian publik dan penonton di tribun: kekompakan luar biasa dari para orang tua siswa.
Tampil Seragam, Satu Warna, Satu Kebanggaan
Dari peluit tip-off dibunyikan hingga detik-detik akhir pertandingan, barisan pendukung yang terdiri dari para orang tua siswa Smantig hadir memadati tribun dengan atribut dan seragam yang senada. Tampilan rapi, serasi, dan berwarna satu membuat kelompok suporter pendukung Smantig ini tampil berbeda serta sangat mudah dikenali.
Kehadiran mereka di tribun bukan sekadar menonton atau bersorak secara sporadis, melainkan hadir dalam satu irama, satu suara, dan satu tujuan: Smantig Menang! Atribut seragam yang dikenakan merepresentasikan kesatuan hati dan tekad yang sejalan dari seluruh keluarga besar sekolah.

Koordinator Orang Tua Pendukung Smantig, dr. Nurhaedah Azis, Sp.KK —yang juga merupakan pemilik sekaligus pengelola Klinik Hitam Putih Gorontalo— mengungkapkan bahwa keseragaman atribut ini memiliki makna mendalam bagi mental para pemain di lapangan.
“Kami tampil seragam agar anak-anak tahu: mereka tidak sendirian. Atribut yang sama melambangkan doa yang sama, harapan yang sama, dan cinta yang sama. Kekompakan inilah yang membedakan kami — dan inilah kunci kemenangan kami!” ujar dr. Nurhaedah saat diwawancarai oleh redaksi usai pertandingan.
Soliditas dan semangat membara yang diperlihatkan para orang tua di tribun penonton terbukti menjadi suntikan moril yang luar biasa bagi para pemain Smantig. Energi positif tersebut mengalir ke lapangan, melecut motivasi anak-anak asuh Smantig untuk tampil tanpa beban hingga menguasai jalannya pertandingan secara mutlak.
Dua edisi beruntun, dua kali pula trofi bergengsi ini jatuh ke tangan Smantig. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi milik para atlet di lapangan, tetapi juga buah dari kolaborasi solid antara pihak sekolah, siswa, dan dukungan penuh para orang tua.***(at)













