19 Tahun Gorut Jadi Daerah Otonom

Menagih Janji Deklarasi di Persimpangan Jalan

Oleh : Arsad Tuna
RealitaNews- Tepat tanggal 26 April 2007, sebuah fajar baru menyingsing di pesisir utara Gorontalo. Melalui perjuangan panjang yang menguras energi dan air mata, Gorontalo Utara resmi memisahkan diri dari Kabupaten induknya, Kabupaten Gorontalo, dan berdiri tegak sebagai daerah otonom di bawah naungan Provinsi Gorontalo. Di balik kemudi perjuangan itu, muncul nama Thariq Modanggu, sosok sentral sebagai Ketua Komite Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara, yang kala itu dengan lantang mendeklarasikan tujuan mulia otonomi: memangkas jarak pelayanan dan mempercepat kesejahteraan rakyat.

Kini, 19 tahun telah berlalu. Gorontalo Utara bukan lagi “bayi” dalam peta administrasi. Ia telah melewati berbagai fase kepemimpinan yang meninggalkan jejak sejarah masing-masing.

Kita mencatat Rusli Habibie sebagai Bupati definitif pertama (2008-2013) yang meletakkan fondasi infrastruktur awal. Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh almarhum Indra Yasin, yang menjabat selama dua periode, membawa narasi keberlanjutan dan stabilitas birokrasi. Ironis sekaligus puitis, sejarah akhirnya membawa kembali Thariq Modanggu—sang arsitek pembentukan kabupaten—ke kursi puncak sebagai Bupati definitif ketiga. Seolah takdir memberi kesempatan bagi sang deklarator untuk mewujudkan sendiri apa yang pernah ia janjikan 19 tahun silam.

Mungkinkah tujuan itu tercapai?

Pertanyaan ini adalah beban sejarah sekaligus kompas masa depan. Secara fisik, Gorut jelas berubah. Namun, secara substansi, otonomi bukan sekadar soal gedung perkantoran atau papan nama instansi. Otonomi adalah tentang seberapa jauh kemiskinan di pesisir berkurang, seberapa aksesibel layanan kesehatan bagi warga di pelosok, dan seberapa mandiri daerah mengelola sumber daya alamnya yang melimpah.

Visi yang dideklarasikan Thariq Modanggu pada April 2007 adalah “janji suci” yang melandasi berdirinya kabupaten ini. Harapan besar masyarakat adalah agar Gorontalo Utara tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata. Rakyat merindukan lonjakan prestasi yang nyata, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.

Mencapai tujuan deklarasi 2007 di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks memang bukan perkara mudah. Namun, dengan usia yang hampir menginjak dua dekade, Gorut seharusnya sudah memiliki kematangan untuk melakukan lompatan besar. Sejarah akan mencatat apakah otonomi ini benar-benar menjadi alat pembebasan dari keterbelakangan, atau hanya sekadar perpindahan kekuasaan dari satu meja ke meja lainnya.

Selamat ulang tahun ke-19, Kabupaten Gorontalo Utara. Perjalanan masih panjang, dan janji deklarasi itu masih menunggu untuk ditunaikan sepenuhnya.***

*)Penulis adalah Pemimpin Redaksi RealitaNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *